Jumat, 22 Mei 2015

I'm Back



Been so long. Hai. Aku menghadapi masa-masa yang berat dan ‘mengguncangkan’ selama setahun terakhir. Masa-masa yang nggak bisa dijelaskan secara jelas lewat kata-kata. Masa-masa yang nggak tahu harus kuceritakan dengan cara seperti apa. Tapi yang pasti…

Aku berubah.

Apa yang kalian pikirkan tentangku dari entri-entri blog yang sebelum ini? Remaja ababil, alay, chuunibyou, wibu, aneh, kekanak-kanakan, dingin, bipolar, suka ketawa-ketawa sendiri, ‘beracun dan berbahaya’, abnormal, monster, dan apa pun itu yang pernah dilabelkan oleh orang lain padaku.
Aku ingat dulu aku memang orang yang seperti itu.

Tapi aku lupa rasanya merasa jadi seperti itu. Aku yang sekarang, melihat ke diriku di masa lalu seperti orang asing. Yang betul-betul ‘bukan aku’. Yang… entah kenapa bikin aku kasihan sama dia.
Entah sejak kapan, aku berubah menjadi apa yang dulu kusebut normal.

Aku ingat dulu aku selalu bertanya-tanya kenapa otak dan hatiku beda sama orang lain—kenapa aku nggak pernah bisa berpikir ngikuti arus orang-orang, sampai akhirnya aku jadi pencilan. Daku paling suka lagu Eugolonomnya Lunetia karena ada kalimat “boku wa futsuu ni nareru no ka na?”—apakah aku bisa menjadi normal. Aku ingat dulu aku menganggap merekalah yang aneh. Bukan aku.

Aku ingat pernah berpikir seperti itu. Tapi aku lupa gimana rasanya.

Barulah aku sadar kalau ‘sesuatu’ yang bikin aku berbeda itu udah hilang. Entah ke mana. Entah sejak kapan. Might be somewhere between Semarang and Bogor. Some time between my high school and college.

Sebetulnya aku tahu apa yang bikin aku jadi normal. Jadi waras. Kalau dipikir-pikir daku juga ingat prosesnya. Kalau diingat-ingat. Tapi itu proses yang agak menyakitkan dalam tanda kutip, makanya aku nggak suka ngingat-ngingat. Aku suka menikmati perubahan diriku yang sekarang. Walau sakit kalau ingat diriku di masa lalu.

Sakit. Soalnya rasanya kayak dirobek jadi dua bagian, dan memaksa satu bagian membunuh bagian yang lainnya. Yang satu beralasan pembunuhan itu dilakukan untuk mencegah sesuatu yang buruk, tapi yang satu lagi menolak mati.

Bagian itulah yang menyakitkan. Masa-masa di mana aku terombang-ambing antara ingin sembuh atau nggak—sampai aku lupa aku yang sebenarnya itu orangnya kayak apa.

Nah, iya. Aku yang sebenarnya itu orangnya kayak apa?

Kebingungan itu berlanjut, sampai tahu-tahu terlewat gitu aja. Akhirnya aku berubah. Mengikuti arus. Jadi apa yang orang bilang ‘lebih baik’. Ya, aku pun merasa demikian. Walau kadang aku ngerasa otakku jadi nggak setajam dulu, jadi nggak sepeka dulu. Nggak bisa berpikir atau memecahkan masalah dengan cara yang ‘aneh’ seperti dulu. Karena aku yang sekarang memaksa untuk berpikir seperti yang orang lain pikirkan.

Kadang-kadang ada keinginan untuk melepas ‘label orang-orang normal yang baik’ ini, hanya untuk mendapatkan kembali pemikiran-pemikiran itu. Kalau ada yang tanya ‘kenapa nggak berubah jadi manusia yang lebih baik, tapi ngambil sisi positif dari diri lamamu yang disebut monster itu?’.

Iya, kenapa nggak begitu aja? Jawabannya karena, aku nggak bisa. Aku belum bisa. Entah kenapa. Kalau mau jadi putih aku nggak bisa mempertahankan yang hitam itu. Dulu aku ingin jadi normal, tapi kenapa sekarang pengen balik lagi kayak dulu? Entahlah. Barangkali cuma godaan setan untuk kembali jadi orang yang suram kelam penuh kegelapan itu.

Suatu saat pasti bisa. Menjadi ‘orang baik’ tapi ‘sedikit tidak normal’. Sebenernya dulu kenapa sih, aku pengen jadi normal? A need for acceptance? Ya. Tempat ini, orang-orang di sini, dan waktu yang sekarang ini, nggak tahu bagaimana aku yang dulu. Aku pernah baca; sekelam apa pun masa lalumu, masa depanmu masih suci. Makanya aku ambil kesempatan untuk berubah jadi ‘normal’. Berusaha jalan di jalan yang lurus. Bukan hanya karena aku nggak siap dengan alienasi macam dulu itu. Tapi karena aku juga ingin jadi baik.

Di awal-awal perubahanku, ada seseorang yang bilang “kamu sekarang berubah banget, drastis, mana kamu yang dulu?”. Daku kembali kaget dan terombang-ambing. Terus harusnya aku jadi kayak apa? Aku merasakan manfaat baik dari perubahan itu. Tapi aku nggak mau kehilangan diriku yang dulu. Yang terpenting, aku harusnya nggak boleh ngerasa kasihan sama diriku di masa lalu itu.
Karena harusnya bukan kasihan. Soalnya orang-orang seperti itu butuh pertolongan.

Nah, kenapa ya tiba-tiba aku ngomong panjang lebar soal ini? Kenapa tiba-tiba aku nulis lagi di blog? Alasannya mungkin kuceritakan lagi kapan-kapan. Intinya sih karena aku ingat kenapa dulu aku bikin blog dan nulis hal-hal nggak penting ini—untuk mencatat yang sekarang untuk dilihat di masa yang akan datang, buat pengingat. Sempet terpikir untuk hapus blog penuh jejak kelam ini dan bikin baru lagi. Tapi kalau gitu sama aja boong dong, tujuanku bikin blog. Hehe. Bakal kuhapus-hapusin entri yang mengandung aib aja kali, ya. Hahaha.

How am I going to welcome the brand new life without letting my past gone?

Udahan. Lain kali lagi. Hanya orang-orang yang tahu bagaimana aku setahun yang lalu yang bisa memahami tulisan nggak jelas ini. *ngek*


--yang belajar jadi manusia

PS: Semoga dari tulisan ini kalian nggak melihat perubahan itu

Selasa, 08 Juli 2014

I woke up unexpectedly at night
This voice I hear , is it my window of hope?
Or is it from the depth of my mind ?
My eyes are wide open, and yet I don' t know
Can' t find the reason to live
Feel just mad pain
Feel just mad pain
When did this happen ?
My heart is in pain and it won ' t stop
Feel just mad pain
Feel just mad pain
Everything seems to be a lie
And everything keeps deceiving me
I woke up flapping my wings
The scattered agony and the reality warns and
wanders in my tears
The confusion weighs in again
The unstoppable voices start a diffused reflection
Can it be erased ?
Can it be killed ?
I close my eyes, but I don' t know
Can' t find a single proof that I' m living
In this transitory world
I stare into my heart becoming stained
And I ' m alone and I can' t do anything
In the pain
Feel just mad pain
Feel just mad pain
Why?
I hold dear within my ill gotten beliefs
Why?
I welcome tomorrow without understanding today
I woke up flapping my wings
The scattered agony and the reality warns and
wanders in my tears
It bloomed in the traces of my tears
Held by nothingness
In the voice that won ' t stop ringing
Deep inside the burned out truth
Is the one piece of hope

Jumat, 04 Juli 2014

krisis

本当の私はどこにきえた?
このままじあ…

私…

は…

Selasa, 27 Mei 2014

Sabtu, 29 Maret 2014

Minggu, 16 Februari 2014

"But you killed me anyway..."

Kalian tahu kelemahanku. Kalian tahu kekuatan tersembunyiku. Aku mengatakan semuanya pada kalian. Semua yang berpotensi menghabisiku, tanpa curiga bahwa suatu saat kalian akan menyerangku di tengah-tengah perasaan aman yang melengahkan...

Aku percaya.

Tapi kalian ternyata membunuhku juga...


mengertilah

I rely on you.

I trust you all, more than anyone.

But why would you set me in a situation I fear the most?

It's killing me...

Kamis, 30 Januari 2014

Jumat, 17 Januari 2014

Astaghfirullah...

Hhh...

Gimana, ya?

EEEEEERGH!!!! BOLEH TERIAK BENERAN GAK, NIH?!

Astaghfirullah...

Daku punya kalimat penyemangat setiap kali ngerasa capek; bilang capek nggak akan ngurangi rasa capek itu sendiri. Tapi... tapi... tolong izinkan daku berkeluh kesah untuk kali ini saja uowowow~ *deshplakk*

Kenapa ya, lingkunganku beberapa hari terakhir hectic buanget rasanya. Daku yang orangnya terlalu volatil ini jadi kebawa stres dan malah sempat tumbang berhari-hari. Barangkali kebawa suasana anak-anak yang... apa ya... ribet banget gitu masalah ujian. Padahal daku anaknya angin-anginan banget gini. Entah kenapa orang-orang di sekelilingku terlihat bergerak dengan kecepatan tinggi dan bergerak gak beraturan sampe bikin daku (selaku pengamat) jadi pusyiang lihatnya.

Hhh...

Cuma masalah ujian...

Baru masalah ujian...

Tapi sebetulnya bukan cuma itu.

Btw, yang bener-bener bikin daku gak tahan kali ini itu masalah kosan. Rasanya pengen meledak gara-gara suasana di sini, tapi daku gak ada tenaga lagi. Daku sampe BINGUNG mau gimana lagi njelasin keadaan kosan daku. Sekarang ini, di luar kamar ini, mbak-mbak kosan (yang kusebut 'wanita-wanita menakutkan') lagi misuh-misuh, mukul-mukul barang, memaki-maki, ngomel-ngomel, etc etc. (Perhatian: ini beneran, bukan kiasan.)

Asskdfjasiufhasilgjiakslhgasss!!!

Dengan bahasa yang paling sopan bisa kubilang kalau kosanku ini bobrok banget. Bangunannya ya maksudku. Coba bayangkan gimana rasanya kalau; pulang sore dari sekolah, nyampe gerbang lihat GUNUNGAN sampah yang belum diangkut, bagian depan kosan lagi dibangun dan itu artinya kosan kotor, musim hujan; bocor dari mana-mana dan akhirnya bagian dalam kosan becek di mana-mana. Baru masuk kosan aja rasanya udah juengkel setengah mati. Joroknya minta ampun. Daku mencoba sabar dan memilih untuk ndekem di kamar saja.

Masalah selesai...

...kukira.

Tapi ternyata belum.

Daku sudah di kamar tapi suasananya sangat nggak enak. Daku paling nggak tahan dengar suara orang teriak. marah, ngomel, atau mengungkapkan kemarahan. Kenapa? Karena bikin pengen marah juga (makanya daku benci bagian ngereto di LDK). TAPI SEJAK TADI ITU MBAK-MBAK KOSAN NGOMEL-NGOMEL DI DEPAN KAMARKU!!

Astaghfirullah... (Daku sholat Maghrib sampe dua kali gara-gara nggak khusyu'. Daku ngaji dengan suara lebih nyaring daripada biasanya. Niatnya biar mbak-mbaknya pindah tempat atau melanin suara. Tapi suaranya embaknya keras banget. Ya Allah, daku nggak bermaksud nguping. T___T)

Jadi ceritanya, mbak-mbak kosan pada sebel sama keadaan kosan yang sangat bobrok itu. Masalah sampah yang di depan, katanya gara-gara yang punya kos belum bayar uang sampah apa gimanaaa gitu. Terus pengurus kosan semingguan ini gak dateng. Mbak-mbaknya kayaknya dendam banget sama ibu pemilik kosan (sampe misuh-misuh etc). Mbaknya rundingan macem-macem buat minta pertanggungjawaban sama ibu kos. Akhirnya mbak-mbak itu ng-SMS dan jawaban ibu kosnya bikin suasana makin panas. Intinya SMS balasan itu isinya "kalo nggak suka di sini mending anak-anak cari kosan lain aja". WTF!!!

Hhh...

Astaghfirullah...

Apa nggak capek gitu ya, ngomel-ngomel berjam-jam gitu? Daku yang marah dengan hanya diam saja aja lemes banget og. Yak, sampe sekarang omelan-omelan para wanita menakutkan itu masih berlanjut. Semoga cepet selesai karena daku sama sekali nggak bisa konsentrasi sekarang...

Astaghfirullah...